Selasa, 22 Desember 2020

PANDEMI MENJADI SENJATA JITU PERIKLANAN

 Oleh    : Fahmi Rozaq Bahari (19107030079)

            Saat-saat ini, manusia diberbagai penjuru dunia sedang mengalami situasi pandemi yang disebabkan adanya virus COVID-19 yang mengakibatkan aktivitas manusia terbatas. Bahkan, ada juga yang terpaksa yang seharusnya melakukan pekerjaannya di kantor, kini harus melakukannya di rumah untuk menghindari penyebaran virus tersebut. Pemerintah juga ikut andil dalam berupaya mencegah penyebaran virus tersebut yang kini sudah memakan banyak korban jiwa. Diantaranya memberikan edukasi yang berkolaborasi dengan tenaga kerja kesehatan melalui blusukan ke berbagai daerah hingga pembuatan iklan layanan masyarakat yang disebarkan melalui berbagai macam platform.

Periklanan dapat didefinisikan sebagai seluruh proses yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, umpan balik, maupun penakaran dari sesuatu komunikasi tentang produk dan atau merek. Periklanan juga merupakan salah satu perangkat yang paling umum digunakan sebuah perusahaan untuk mengarahkan komunikasi persuasif pada pembeli, khalayak, dan masyarakat. Periklanan pada dasarnya adalah bagian dari kegiatan industri modern dimana kehidupan saat ini tergantung kepada iklan.

Komunikasi persuasif dalam iklan memegang peranan penting dalam menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak. Iklan tidak semata-mata hanya bersifat persuasif saja. Tetapi, iklan harus mencakup bagaimana iklan harus bisa menjual, menghibur serta menyampaikan informasi sebuah produk. Namun, hal-hal seperti ini justru tidak diperhatikan oleh beberapa advertiser yang dimana kebanyakan mengesampingkan segi informasi dari produk tersebut. Apalagi situasi pandemi ini bisa juga dimanfaatkan oleh pengiklan atau pemeran untuk memberikan informasi yang sebenarnya tidak ada dalam produk tersebut, seperti mencegah virus COVID-19, penangkal virus, dan sebagainya. Sehingga kesan iklan tersebut cenderung menjanjikan kemampuan untuk mencegah penyakit.

Dalam sebuah iklan produk Vit C1000 yang ditayangkan disela-sela penayangan sinetron “Ikatan Cinta” dimana pada sebuah scriptnya terdapat kata-kata “Penerapan 3M saja belum cukup harus ada tambahan M yang satu lagi, yaitu minum Vit C1000…”. Hal ini tentu saja melanggar Etika Pariwara Indonesia Amandemen 2020 pada poin 2.5.2 yang berbunyi “Iklan tidak boleh menjanjikan kemampuan untuk mencegah penyakit”. Selain itu iklan tersebut secara tersirat juga telah melanggar pada poin 2.5.5 yang berbunyi “Iklan tidak boleh menyatakan ataupun memberikan kesan bahwa kesehatan, kegairahan, dan kecantikan, akan dapat diperoleh hanya dari penggunaan produk terkait.”

Dari beberapa pelanggaran diatas, iklan seharusnya berpatokan kepada EPI. Memang tata krama dalam periklanan tidak bersifat mengikat dan hanya bersifat normatif. Menurut RTS Masli dengan adanya etika ini bukan berarti membatasi kreativitas, melainkan hal ini membuat bagaimana seorang advertiser dapat bekerja dengan cara yang lazim atau pantas dan yang hal terpenting adalah tidak merugikan orang lain.

Senin, 07 Desember 2020

Bincang Oleh RTS Masli ( Ketua Dewan Periklanan Indonesia ) Berbicara Etika Peiklanan

            Industri periklanan saat ini memiliki dampak yang cukup luar biasa dalam menarik perhatian khalayak. Namun, terlepas dari itu ada suatu hal yang perlu diperhatikan dalam mempromosikan atau mengiklankan sebuah produk. Salah satunya mengenai etika dalam mengiklankan sebuah produk. Jika berbicara mengenai etika periklanan, ada banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat sebuah iklan. Dalam tulisan ini saya akan mengupas sedikit terkait video RTS Masli yang berbicara mengenai etika periklanan. RTS Masli merupakan Ketua Dewan Periklanan Indonesia sekaligus pengarang buku Cakap Kecap Periklanan. Ada beberapa hal yang dapat kita petik dalam video tersebut diantaranya:

1.      Iklan dalam kategori obat-obatan, jamu dan sebagainya tidak boleh dan tidak ada klaim menggunakan kata-kata “menyembuhkan seketika”. Namun iklan boleh menggunakan kata-kata “membantu proses penyembuhan”. Karena pada dasarnya tidak ada obat manapun dan serta merta pasti dan mengklaim dapat menyembuhkan secara seketika.

2.      Iklan terkadang-kadang tidak perlu harus menggunakan copywriting. namun secara visual iklan dapat mengomunikasikan sebuah produk.

Iklan dapat didefinisikan sebagai bentuk komunikasi tentang produk atau jasa bermerk yang ditujukan kepada khalayak yang bertujuan agar mereka memberikan respon atau feedback. Jika iklan tersebut tidak ada tanggapan maupun respon maka iklan tersebut diragukan.

Periklanan merupakan keseluruhan  proses yang meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan. Secara umum tujuan dari periklanan itu sendiri diantaranya:

1.      Menciptakan pengenalann merek/produk/perusahaan.

2.      Memposisikan sebuah produk agar mempermudah dalam perencanaan.

3.      Mendorong prospek untuk mencoba.

4.      Mendukung terjadinya penjualan.

5.      Membina loyalitas.

6.      Mengumumkan cara baru pemanfaatan

7.      Meningkatkan citra.

Struktur industri periklanan

1.      Produsen atau pengiklan.

2.      Agency, mengelola serta mengemas informasi suatu produk secara persuasif.

3.      Media, penyebaran sebuah iklan melaui media baik itu berupa online maupun offline.

4.      Suppliers, pendukung atas terjadinya sebuah iklan atau bisa disebut sebagai fasilitator.

Dalam tahap proses advertising periklanan tidak lepas dari yang namanya etika yang membatasi. Namun, sebenarnya etika tidak membatasi sebuah kreativitas melainkan  membuat sesorang untuk bekerja dengan cara yang lazim atau pantas serta yang terpenting adalah tidak merugikan pihak lain.

Dalam proses periklanan terhadap sebuah produk selalu ada yang namanya marketing plan. Di dalam marketing plan itu sendiri pasti di dalamnya terdapat marketing strategy. Dalam marketing strategy ini ada sebuah tujuan dimana produk yang diiklankan laku di pasaran. Ada beberapa proses yang dilakukan agar tujuan dari marketing strategy tercapai, diantaranya:

1.      Proses pengenalan atau pemahaman mengenai sebuah produk.

2.      Pesan yang disampaikan.

Dalam hal ini kreativitas merupakan kunci utamanya bagaimana seorang advertiser mengolah pesan tersebut untuk disampaikan kepada masyarakat.

3.      Perencanaan media.

Dalam hal ini akan mempengaruhi bagaimana keefektifan serta keefisienan sebuah iklan dalam memperkenalkan sebuah produk.

Ada beberapa poin mengenai periklanan

1.      Merupakan komponen integral dari pemasaran

2.      Salah satu metode Komunikasi Pemasaran

3.      Lebih efektif jika didukung metode komunikasi lain

4.      Sangat membutuhkan pengenalan khalayak

5.      Periklanan juga menjual harga, distribusi, promosi, layanan, dan citra.

6.      Dapat membentuk sikap dan opini masyarakat.

7.      Harus ditetapkan dengan teliti, dan diperlakukan sebagai suatu investasi.

Periklanan membantu terciptanya skala ekonomi yang besar bagi setiap produk, sehingga menurunkan biaya produk dan distribusi per unit atas produk tersebut, dan pada gilirannya memurahkan harga jualnya kepada masyarakat. Periklanan juga tak lepas dari tanggung jawab kepada masyarakat atau khalayak, diantaranya:

1.      Disadari atau tidak, setengah dari konten atau isi iklan berupa informasi. Dimana informasi tersebut harus didesain kreatif dan menarik oleh iklan. Ketika iklan persuasinya sangat dominan dibandingkan dengan informasi yang diberikan, maka iklan tersebut cenderung melanggar etika. Hal ini berkaitan ada beberapa iklan yang dimana terdapat penggunaan kata-kata superlative pada iklan terhadap produk yang tanpa disertai dengan adanya survey atau sumber yang jelas.

2.      Iklan memberi informasi yang relevan, fokus, dan cepat kepada masyarakat. Tanpa mengorbankan hak masyarakat konsumen untuk tetap dapat memilih atau menolak produk-produk yang tidak mereka butuhkan. Sasaran akhir periklanan adalah terjadinya penjualan. Karena itu periklanan tidak dapat membohongi atau menyesatkan masyarakat. Jika hal itu terjadi terhadap produk yang yang diiklankan, maka akan menjadi boomerang bagi sang produsen dan perusahaan periklanannya. Dan lebih buruknya, produk yang diiklankan tidak laku dipasaran.

Aspek hukum

1.      Pada aspek ekonomi, pengaturan media harus menjamin berkembangnya persaingan bebas pada kalangan pelaku usaha.

2.      Hal ini dimaksudkan agar pada gilirannya para pelaku usaha terdorong untuk meningkatkan mutu produk, menekan harga jual, dan meningkatkan layanannya yang dampaknya bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam payung hukum periklanan terdapat tiga asas yang terpenting, yakni:

1.      Iklan harus jujur, benar dan bertanggung jawab.

2.      Bersaing secara sehat

3.      Melindungi dan menghargai khalayak serta tidak merendahkan negara, SARA, serta undang-undang atau hukum yang berlaku.

Tata karma dalam periklanan tidak mengikat namun bersifat normatif

1.      Tergantung kepada niat dan hati nurani masing-masing.

2.      Yang mengawasi dan membina jelas

o   Tidak ada sanksi yang memberatkan

o   Sanksi tidak bisa diterapkan

o   Pengawasan dan pembinaan tidak efektif.

3.      Rambu-rambunya terbuka dan interpretasi.

Pengiklan bertanggung jawab atas benarnya informasi tentang produk yang diberikan kepada perusahaan periklanan. Termasuk ikut dalam hal memberi arah, batasan, dan masukan pada pesan iklan. Sehingga tidak terjadi janji yang berlebihan (over claim) atas kemampuan nyata produk. Media juga bertanggung jawab atas penyebarluasan iklan.

Cara atau proses keseluruhan membuat sebuah iklan yang baik dan benar, yaitu:

1.      What to say meliputi:

o   Mengapa produk tersebut diiklankan?

o   Apa alasan untuk membeli produk tersebut?

o   Untuk siapa produk tersebut?

2.      How to say, dalam hal ini iklan harus kreatif dan hal ini meliputi bagaimana iklan harus bisa menjual, menghibur, dan menyampaikan informasi. Iklan yang bagus adalah ketika iklan tersebut ditayangkan dalam frekuensi tinggi, iklan tersebut tidak membuat penonton bosan melainkan membuat khalayak atau audiens  itu merasa ikhlas menonton iklan tersebut.

3.      Craftmanship, meliputi proses eksekusi iklan terhadap produk.

4.      Media, memposisikan bagaimana iklan tersebut disebarkan secara efektif dan efisien.

5.      Konsumen, meliputi keputusannya setelah melihat iklan tersebut apakah menginginkan produk atau tidak atau akan membeli produk tersebut atau tidak.

Periklanan dalam dunia kerja bersifat sangat fleksibel yang berarti seseorang yang bekerja di bidang advertising dapat melakukan berbagai pekerjaan diluar bidangnya. Misalnya seorang copywriter dapat melakukan pekerjaan di bidang agency dan sebaliknya dan memilki banyak pilihan dibidang tersebut.

Pada industry periklanan era sekarang dibagi tiga yaitu:

1.      In home, meliputi PR, director, advertising publicity dll.

2.      In life, meliputi sponsorship, partnership, dsb

3.      In store, meliputi bagaimana seseorang meyakinkan audiens terhadap sebuah produk agar produk tersebut dibeli.

Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan video penjelasan RTS Masli

https://youtu.be/WICiPsMHqb4

Fahmi Rozaq Bahari 19107030079

  

PANDEMI MENJADI SENJATA JITU PERIKLANAN

  Oleh     : Fahmi Rozaq Bahari (19107030079)             Saat-saat ini, manusia diberbagai penjuru dunia sedang mengalami situasi pandemi...